membuat isolat mikroorganisme dari telur asin busuk
1.ambil 5 gram telur asin busuk yang sudah dilumatkan
2.tambahkan 45 ml NaCl 0,85%, masukkan dalam kantung plastik lalu proses/homogenisasi dengan stomatcher
3.ambil 1ml larutan tersebut, lalu masukkan ke tabung 1 dan diencerkan dengan 9ml larutan NaCl 0,85%
4.ambil 1ml larutan dari tabung 1, lalu masukkan ke tabung 2 dan diencerkan dengan 9ml larutan NaCl 0,85%
5. lakukan seperti tahap 3 dan 4 hingga mencapai tabung ke 8
6. setelah dilakukan pengenceran bertahap, tuang cairan dari masing-masing tabung ke dalam cawan petri, 1 tabung 1 cawan.dan akan didapatkan 8 larutan.
7. tuang PCA+ 1%Nacl ke dalam masing" plate/cawan (metode Pour plate) lalu digoyang" hingga merata
8. tunggu dingin dan diinkubasi pada suhu kamar (37 c) selama 48 jam
9. hitung koloni yang tumbuh.
jumlah koloni yang dapat dihitung adalah 30-300 koloni per plate.
bakteri yang sering ditemukan dalam telur asin adalah salmonella oranienburg, jenis" bakteri proteus, dan bakteri pseudomonas
Minggu, 17 Oktober 2010
Kamis, 29 Juli 2010
Cerpen, Sabihisma
SABIHISMA
Alfi tertegun memandangi sosok yang sekarang ada di depannya. Cowok berkemeja kotak-kotak yang wajahnya sangat familiar di matanya. Mengingatkannya kembali ke 5 tahun silam. Tepatnya ketika Alfi duduk di kelas 2 SMA. Yapz, Alfi tak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah yang selalu bercahaya dan bersahaja. Wajah yang telah membuatnya bisa mengagumi ciptaan-Nya. Sungguh, dia adalah cowok pertama dan satu-satunya yang pernah singgah dalam hatinya hingga saat ini. Tanpa pernah ada orang yang mengetahui betapa dia bangga ketika bisa melihat wajahnya walaupun itu cuma dari jarak jauh. Alfi menyimpannya rapi di dalam hati. Karena dia tak mau ada orang yang tahu dan menertawakannya. Karena dia adalah adik kelasnya.
‘Seingatku, aku belum pernah berbicara langsung dengannya. Aku hanya memandanginya dari kejauhan dan merasakan kehadirannya. Ingin rasanya menyapa, menanyakan kabar ataupun hanya ber-say hello tetapi itu gak mungkin, karena dia adalah adik kelasku yang notaben banyak disukai oleh para pemujanya. Sedangkan aku, hanyalah seorang kakak kelas yang biasa-biasa saja. Wajahku gak cantik begitu juga dengan prestasiku, semuanya serba biasa. Tidak seperti dia yang sungguh merupakan sosok cowok sempurna.’
‘Kalian tahu bagaimana hatiku berkenalan dengannya? Tentunya bukan karena aku melihat wajahnya terus jatuh hati karena terpedaya oleh wajahnya yang tampan tetapi ini lebih hebat dari pada ‘cinta pada pandangan pertama’. Ini ku sebut sebagai ‘cinta pada pendengaran pertama’.
Di saat pulang dari membuat Mading, Alfi ‘jatuh cinta pada pendengaran pertamanya’ di Musholla Baiturrahman. ‘Sabihisma’ itu adalah nama yang dia berikan pada cowok itu, karena tak tahu siapa namanya. Alfi jatuh hati saat sholat Magrib berjamaah. Dia mendengarkan dengan jelas surat yang dibawakan oleh imam. Surat Al A’laa. Sungguh hatinya runtuh mandengar dia membacakan surat itu, ini adalah kala pertamanya Alfi menangis saat shalat magrib. Betapa bagus lafal dan tadjwid sang imam hingga dapat membuatnya begitu merasakan betapa indahnya ayat-ayat Allah. Hingga saat selesai shalat, Alfi melihat wajah sang imam. Saat itu Alfi tak tahu jika dia adalah adik kelasnya. Alfi menyangka dia adalah alumni, karena belum pernah melihat wajahnya, apalagi mengetahui namanya dan Alfi pun memutuskan memberi nama padanya ‘Sabihisma’ (Bunyi ayat pertama dari Surat Al ‘Alaa).
‘Suatu hari aku tak sengaja mengetahui namanya saat sahabatku Ari memanggilnya. Namanya adalah Rifai. Kemudian lambat laun aku mengetahui namanya adalah Kusna Rifai, adik kelasku satu tingkat yang banyak di idolakan oleh teman-teman sebayanya apalagi adik kelasnya saat SMP’.
‘Setelah mengetahui semua tentang Sabihisma, berbagai kebetulan terjadi, di antaranya adalah ketika kegiatan Pensi sekolah berlangsung. Seperti biasa, aku tak berminat mendengarkan band-band yang notabone menyanyi dengan gaya dan suara yang menurutku ‘norak’ karena membuat kepalaku nyut-nyut. Jadi aku memilih berada di dalam kelas. Namun, sayup-sayup aku mendengar ada seorang yang menyanyikan lagu ‘Laskar Pelangi’ dengan diiringi gitar. Merdu sekali suaranya. Aku pun tak sadar berlari keluar kelas mendekati panggung, ingin melihat siapa yang menyanyikan lagu itu. Dan ternyata ‘aku kembali jatuh cinta pada pendengaran ke dua ku’, yang menyanyikan lagu itu adalah Sabihisma. Hm, aku termenung sejenak kenapa hal ini bisa kebetulan’.
‘Tidak hanya itu, ketika aku mengikuti lomba mading dan berhasil mendapatkan juara ke dua, aku maju ke depan untuk menyerahkan piala yang ku dapat kepada Bapak Kepsek. Dan lagi-lagi sungguh kebetulan, ‘Sabihisma’ berada di sampingku menyerahkan piala juara pertama lomba ‘mading’ (lomba yang sama dengan diriku) yang di adakan di universitas yang berbeda dengan tempat aku lomba. Hatiku benar-benar dag dig dug berdiri di sampingnya’.
‘Dan ini adalah kebetulan terakhir yang aku dapati. Ketika itu anak kelas satu dan dua mendapat tugas mata pelajaran komputer membuat ‘Undangan Pernikahan’ guna sebagai syarat naik kelas. Saat aku akan mengumpulkan undangan yang telah aku buat bersusah payah, aku bertemu Sabihisma di depan pintu lab. computer tanpa aku bisa menyapa. Guruku sedang sibuk, sehingga aku disuruh meletakkan tugasku di meja. Dan apa yang kulihat! Undangan yang Sabihisma buat, mempelai perempuanya bernama ‘Rawinawang Alfiah’. Tahukah, itu adalah nama lengkapku! Entah dia sengaja atau hanya kebetulan. Dan Undangan yang aku buat mempelai laki-lakinya adalah ‘Kusna Rifai’. Semoga Bu Ujik selaku guru mata pelajaran computer tidak menyadari itu. Betapa malunya diriku jika sampai ada yang tahu’.
“Permisi, Al!” Cowok yang ada di depannya membuyarkan segala kenangan yang tak sengaja telah terbongkar karena kehadirannya.
“Eh,, iya!” Alfi menjawab sapaannya dengan agak salah tingkah. Kemudian cepat-cepat Alfi menata hatinya kembali.
‘Aku sadar jika dulu adalah dulu dan sekarang adalah sekarang. Tapi kenapa dia bisa tahu namaku. Apa mungkin dulu dia sudah tahu namaku’. Hah! Kembali Alfi mencoba menata hatinya yang penuh tanda tanya. Dan dia sadar jika sedang memakai tanda pengenal di bajunya.
‘Hm kenapa juga di destro ini harus pake tanda pengenal segala kaya di swalayan-swalayan aja! Hah, biar kelihatan agak matching plus biar terkenal, kata temenku Dito, yang mempunyai nih distro. Ada-ada aja si Dito ini!’
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Alfi padanya.
“Iya nih, aku pengen beli baju buat cewek tapi aku gak tahu selera cewek! Kamu bisa bantuin gak?” Tanya Rifai sambil memilah-milah baju.
“Hm, cewek kamu itu orangnya gimana?” Tanya Alfi padanya. ‘Sebagai pelayan aku harus professional. Aku gak boleh melibatkan perasaan dalam bekerja. Wuih, padahal aku udah cemburu berat. Karena di sini aku sedang bekerja, walaupun bekerjanya cuma hari ini doang sih! Soalnya hari ini aku harus gantiin Linda yang sedang ada ujian di kampus’.
“Ya, gimana ya! Dia itu orangnya sederhana gak suka macam-macam! Dan sepertinya dia itu orangnya simple!”
“Hm, gitu ya! Mungkin yang ini lebih cocok untuk cewek kamu itu!” kata Alfi sambil menyerahkan gaun pesta yang sangat simple dan gak ribet namun terkesan anggun jika dipakai.
“Oh iya! Ukurannya apa, S, M, atau L?” Tanya Alfi kemudian.
“Hm, pa ya! Aku gak tau, postur tubuhnya seperti kamu! Kalau kamu ukurannya apa?” Tanya Rifai.
“M” jawabku singkat.
“Oh, ya udah aku ambil yang M aja kalau gitu! Eh, iya menurut kamu warnanya bagusan yang mana yang biru atau merah?”
“Loh kok malah jadi aku yang disuruh milih terus!”
“Hahaha, soalnya ini adalah kali pertamanya aku beliin baju cewek! Hehehe…!” jawabnya sambil tertawa.
“Hahaha,,, gitu ya! Pasti spesial banget tuh cewek!” Alfi tertawa garing karena di dalam hatinya sudah tumpah ruah kecemburuannya.
“Iya special banget lah! Eh trus bagusan yang mana nih, biru atau merah?” tanyanya sambil tersenyum.
“Hm, kalau aku yang di kasih sih aku pilih yang biru!”
“Hm, gitu ya! Oke aku ambil yang biru aja! Sekalian dibungkus ya Al!” Rifai menyuruh Alfi seakan dia sudah kenal akrab. ‘Padahal biasanya kalau pelanggan menyuruh pelayan itu bukannya bilang ‘Mbak’! Ah, entahlah!’
“Oke!”. Aku membawa baju itu! Baru pertama ini Alfi bisa bicara langsung dengannya. ‘Memang benar kali ya! Kata novel-novel, kalau cinta tuh gak harus saling memiliki. Tapi! Aku pengen memilikinya. Betapa beruntungnya cewek yang diberi gaun itu! Seberapa spesialnya sih tuh cewek! Aduh aku kembali berandai-andai lagi’.
***
“Thanks ya Al! Kemarin udah mau gantiin aku jaga toko! Btw, kalau nanti sore kamu jagain lagi gimana? Soalnya aku ada perlu! Please ya Al! Cuma dua jam aja deh! Dari jam enem sampai jam delapan!” kata Linda memohon.
“Emang kamu mau kemana Lin?”
“Kemana ya! Kencan ama Rusli! Sekarang kan hari Sabtu!”
“Hah, ogah banget aku gantiin kamu! Enakan kamu, susahan aku dong lo kaya gitu!” jawab Alfi sambil agak sewot.
“Yah, Al! Demi persabahabatan! Oke! Lagian kamu kan lum punya cowok! Itung-itung sambil cari cowok di toko. Sapa tahu aja ada cowok yang bisa buat hati kamu kecantol! Hahaha…” kata Linda.
“Nggak, sekali nggak ya tetep nggak!” jawabnya sambil mencari-cari kunci mobil yang tadi dia taruh di tas.
“Nyari apa Al? Pasti ini kan!” Linda memberikan sebuah kunci.
“Heh, tahu aja!”
“Yeh, kebiasaan tuh! Kalau punya barang suka lupa naroh!”
“Iya. Iya Non! Besok lain kali pasti gak akan lupa lagi deh! Heheheh, tapi kapan ya aku gak amnesia hahhahaha!” jawabnya sambil ngloyor pergi meninggalkan Linda.
“Aku duluan ya!” teriak Alfi.
“Yoi”. Jawab Linda. Hari ini Alfi ada kuliah sampai jam lima sore. Hampir tiap hari Alfi pasti pergi ke Distronya Dito. Entah itu hanya sekedar menemani dan ngobrol dengan Linda ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu. Kalau pun, hatinya sedang benar-benar berantakan dia memilih pergi ke laut. Yapz, kalau sudah memandangi laut! Dia selalu menjadi tenang karena dia yakin jika ombak-ombak di lautan menanggapi apa yang selalu dia keluh-kesahkan ke padanya dengan deburan ombak yang mengalun riuh.
‘Itung-itung demi persahabatan!’ Alfi memutuskan untuk ke distro, niatnya sih gantiin Linda. ‘Daripada ngganggur di kost! Mendingan jaga distro, ya nggak!’.
“Koran Neng!” kata penjual koran sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil Alfi di lampu merah..
“Kompas Bang!” katanya sambil menyerahkan uang seribuan.
‘Deg!’ tak sengaja ketika Alfi membuka kaca mobil, dia melihat Rifai sedang berduaan dengan cewek di depan Restaurant. Sumpah! Hatinya kacau banget! Padahal dia tahu, dia bukan siapa-siapanya. ‘Tapi, aku gak tahu kenapa? Rasanya hati ini benar-benar hancur!’. Karena perasaannya yang tiba-tiba bad mood Alfi pun memutuskan untuk pergi ke laut.
Di laut, seperti biasa ketika ada masalah, dia bercerita ke laut, sambil memandang hampa laut yang tanpa batas. Setelah capek, dia akan termenung, merenungi semua apa yang telah terjadi hingga dia merasa benar-benar tenang.
“Hei, kenapa harus Rifai yang aku cinta!”
“Kenapa laut? Kenapa!”
“Kenapa hanya dia yang selalu menguasai hatiku!”
“Kenapa?”
“Jawab laut!”
“Kenapa kau harus hadir di dalam hatiku lagi!”
“Why?”
Setelah menumpah ruahkan segala apa yang dia rasakan. Kemudian dia merenungkan kenapa dia harus sedih! Kenapa dia harus cemburu! Cowok yang dia pikirkan mungkin tak tahu jika telah membuat hatinya sedih! Dia sadar jika ada yang salah pada dirinya yaitu karena dia terlalu menyayangi cowok itu.
Hatinya telah tenang! Kemudian dia beranjak menuju mobil. Di depan mobil, dia melihat seseorang.
“Sabihisma!”
‘Kenapa dia berdiri di mobilku! Belum puaskah dirimu membuat hatiku kacau balau!’ Hatinya Alfi yang semula telah tenang kembali marah. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol matanya untuk tidak menangis.
“Al!” kata Rifai.
“…..” Alfi hanya diam sambil terus berjalan membuka pintu mobilnya.
“Maafkan aku Al, jika telah membuatmu menangis!” katanya kemudian.
“…….” Alfi masih diam. Namun, dia terdiam sesaat melihat wajah Rifai yang terlihat serius.
“Aku sudah tahu semuanya! Aku mendengar semua apa yang telah kau ceritakan ke laut! Dan sekarang aku tak akan mengulangi kebodohanku untuk kedua kalinya. So, please Al! terima ini!” kata Rifai sambil menyerahkan sebuah kotak kado bergambar kerang-kerang dan laut.
Alfi masih terdiam, hatinya bingung!
‘Apa maksud semua ini? Kenapa dia bilang tak ingin mengulangi kebodohannya untuk kedua kalinya?’ hatinya bertanya-tanya sembari tak sadar menerima kotak itu dan membukanya.
‘Baju yang waktu itu Rifai beli di distro!’
“Al, kamu lah orang special yang aku maksud! Sudah lama aku mencarimu, 3 tahun aku mencarimu kemana-mana dan baru sekarang aku bisa bertemu denganmu. Mau kah kau menjadi orang special di hatiku?” Tanya Rifai.
Alfi ingat, jika tadi dia melihat Rifai sedang berduaan dengan seorang cewek di Restoran. Berarti dia hanya bohong untuk apa yang dia ucapkan. Namun, seperti seorang ahli nujum, Rifai bisa membaca pikiran Alfi.
“Mungkin, kamu berpikir aku membohongimu! Aku tahu, pasti kamu tadi melihatku sedang bersama seorang cewek di pinggir jalan! Dia bukan cewekku Al! Percayalah, dia adalah adikku! Serta merta dia memperlihatkan foto keluarga yang dia simpan dalam dompetnya.
“Percaya kan Al!” Alfi hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
“Al, coba kamu ambil gaun itu!” kata Rifai.
Alfi pun mengambil gaun itu dari kotak dan didapatinya sebuah undangan pernikahan. Undangan yang sama persis seperti undangan yang dia lihat lima tahun lalu.
“Aku telah menyimpan perasaanku ini lebih dari lima tahun! Dulu aku menyesal karena tak bisa mengungkapkan perasaan ini hanya gara-gara aku takut, jika kamu menolakku! Karena aku adalah adik kelasmu!”
“Namun, aku sekarang memberanikan diri untuk mengajakmu menikah! Maukah kau menikah denganku Al?”
Hening sejenak! ‘Menikah....... ‘ Alfi bingung mau menjawab apa namun terlontar dari bibirnya tanpa sadar jika dia mengiyakan.
“Iya!”
“Namun, dengan satu syarat!” jawab Alfi kemudian.
“Apa itu!”
“Please nanti habis ini, kita mampir di masjid dan sholat magrib berjamaah. Kamu yang jadi imam dan bacakan Surat Al ‘Alaa!”
“Kenapa harus Surat Al’ala?”
“Karena.... entahlah! Kamu hafal kan?”
“Oke!” Alfi dan Rifai pun sholat berjamaah dan Rifai membacakan surat Al ‘Alaa. Sungguh indah sekali suara itu, persis seperti lima tahun yang lalu. Sabihisma. Terima kasih ya Allah Kau telah mempertemukan jodohku.
Alfi tertegun memandangi sosok yang sekarang ada di depannya. Cowok berkemeja kotak-kotak yang wajahnya sangat familiar di matanya. Mengingatkannya kembali ke 5 tahun silam. Tepatnya ketika Alfi duduk di kelas 2 SMA. Yapz, Alfi tak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah yang selalu bercahaya dan bersahaja. Wajah yang telah membuatnya bisa mengagumi ciptaan-Nya. Sungguh, dia adalah cowok pertama dan satu-satunya yang pernah singgah dalam hatinya hingga saat ini. Tanpa pernah ada orang yang mengetahui betapa dia bangga ketika bisa melihat wajahnya walaupun itu cuma dari jarak jauh. Alfi menyimpannya rapi di dalam hati. Karena dia tak mau ada orang yang tahu dan menertawakannya. Karena dia adalah adik kelasnya.
‘Seingatku, aku belum pernah berbicara langsung dengannya. Aku hanya memandanginya dari kejauhan dan merasakan kehadirannya. Ingin rasanya menyapa, menanyakan kabar ataupun hanya ber-say hello tetapi itu gak mungkin, karena dia adalah adik kelasku yang notaben banyak disukai oleh para pemujanya. Sedangkan aku, hanyalah seorang kakak kelas yang biasa-biasa saja. Wajahku gak cantik begitu juga dengan prestasiku, semuanya serba biasa. Tidak seperti dia yang sungguh merupakan sosok cowok sempurna.’
‘Kalian tahu bagaimana hatiku berkenalan dengannya? Tentunya bukan karena aku melihat wajahnya terus jatuh hati karena terpedaya oleh wajahnya yang tampan tetapi ini lebih hebat dari pada ‘cinta pada pandangan pertama’. Ini ku sebut sebagai ‘cinta pada pendengaran pertama’.
Di saat pulang dari membuat Mading, Alfi ‘jatuh cinta pada pendengaran pertamanya’ di Musholla Baiturrahman. ‘Sabihisma’ itu adalah nama yang dia berikan pada cowok itu, karena tak tahu siapa namanya. Alfi jatuh hati saat sholat Magrib berjamaah. Dia mendengarkan dengan jelas surat yang dibawakan oleh imam. Surat Al A’laa. Sungguh hatinya runtuh mandengar dia membacakan surat itu, ini adalah kala pertamanya Alfi menangis saat shalat magrib. Betapa bagus lafal dan tadjwid sang imam hingga dapat membuatnya begitu merasakan betapa indahnya ayat-ayat Allah. Hingga saat selesai shalat, Alfi melihat wajah sang imam. Saat itu Alfi tak tahu jika dia adalah adik kelasnya. Alfi menyangka dia adalah alumni, karena belum pernah melihat wajahnya, apalagi mengetahui namanya dan Alfi pun memutuskan memberi nama padanya ‘Sabihisma’ (Bunyi ayat pertama dari Surat Al ‘Alaa).
‘Suatu hari aku tak sengaja mengetahui namanya saat sahabatku Ari memanggilnya. Namanya adalah Rifai. Kemudian lambat laun aku mengetahui namanya adalah Kusna Rifai, adik kelasku satu tingkat yang banyak di idolakan oleh teman-teman sebayanya apalagi adik kelasnya saat SMP’.
‘Setelah mengetahui semua tentang Sabihisma, berbagai kebetulan terjadi, di antaranya adalah ketika kegiatan Pensi sekolah berlangsung. Seperti biasa, aku tak berminat mendengarkan band-band yang notabone menyanyi dengan gaya dan suara yang menurutku ‘norak’ karena membuat kepalaku nyut-nyut. Jadi aku memilih berada di dalam kelas. Namun, sayup-sayup aku mendengar ada seorang yang menyanyikan lagu ‘Laskar Pelangi’ dengan diiringi gitar. Merdu sekali suaranya. Aku pun tak sadar berlari keluar kelas mendekati panggung, ingin melihat siapa yang menyanyikan lagu itu. Dan ternyata ‘aku kembali jatuh cinta pada pendengaran ke dua ku’, yang menyanyikan lagu itu adalah Sabihisma. Hm, aku termenung sejenak kenapa hal ini bisa kebetulan’.
‘Tidak hanya itu, ketika aku mengikuti lomba mading dan berhasil mendapatkan juara ke dua, aku maju ke depan untuk menyerahkan piala yang ku dapat kepada Bapak Kepsek. Dan lagi-lagi sungguh kebetulan, ‘Sabihisma’ berada di sampingku menyerahkan piala juara pertama lomba ‘mading’ (lomba yang sama dengan diriku) yang di adakan di universitas yang berbeda dengan tempat aku lomba. Hatiku benar-benar dag dig dug berdiri di sampingnya’.
‘Dan ini adalah kebetulan terakhir yang aku dapati. Ketika itu anak kelas satu dan dua mendapat tugas mata pelajaran komputer membuat ‘Undangan Pernikahan’ guna sebagai syarat naik kelas. Saat aku akan mengumpulkan undangan yang telah aku buat bersusah payah, aku bertemu Sabihisma di depan pintu lab. computer tanpa aku bisa menyapa. Guruku sedang sibuk, sehingga aku disuruh meletakkan tugasku di meja. Dan apa yang kulihat! Undangan yang Sabihisma buat, mempelai perempuanya bernama ‘Rawinawang Alfiah’. Tahukah, itu adalah nama lengkapku! Entah dia sengaja atau hanya kebetulan. Dan Undangan yang aku buat mempelai laki-lakinya adalah ‘Kusna Rifai’. Semoga Bu Ujik selaku guru mata pelajaran computer tidak menyadari itu. Betapa malunya diriku jika sampai ada yang tahu’.
“Permisi, Al!” Cowok yang ada di depannya membuyarkan segala kenangan yang tak sengaja telah terbongkar karena kehadirannya.
“Eh,, iya!” Alfi menjawab sapaannya dengan agak salah tingkah. Kemudian cepat-cepat Alfi menata hatinya kembali.
‘Aku sadar jika dulu adalah dulu dan sekarang adalah sekarang. Tapi kenapa dia bisa tahu namaku. Apa mungkin dulu dia sudah tahu namaku’. Hah! Kembali Alfi mencoba menata hatinya yang penuh tanda tanya. Dan dia sadar jika sedang memakai tanda pengenal di bajunya.
‘Hm kenapa juga di destro ini harus pake tanda pengenal segala kaya di swalayan-swalayan aja! Hah, biar kelihatan agak matching plus biar terkenal, kata temenku Dito, yang mempunyai nih distro. Ada-ada aja si Dito ini!’
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Alfi padanya.
“Iya nih, aku pengen beli baju buat cewek tapi aku gak tahu selera cewek! Kamu bisa bantuin gak?” Tanya Rifai sambil memilah-milah baju.
“Hm, cewek kamu itu orangnya gimana?” Tanya Alfi padanya. ‘Sebagai pelayan aku harus professional. Aku gak boleh melibatkan perasaan dalam bekerja. Wuih, padahal aku udah cemburu berat. Karena di sini aku sedang bekerja, walaupun bekerjanya cuma hari ini doang sih! Soalnya hari ini aku harus gantiin Linda yang sedang ada ujian di kampus’.
“Ya, gimana ya! Dia itu orangnya sederhana gak suka macam-macam! Dan sepertinya dia itu orangnya simple!”
“Hm, gitu ya! Mungkin yang ini lebih cocok untuk cewek kamu itu!” kata Alfi sambil menyerahkan gaun pesta yang sangat simple dan gak ribet namun terkesan anggun jika dipakai.
“Oh iya! Ukurannya apa, S, M, atau L?” Tanya Alfi kemudian.
“Hm, pa ya! Aku gak tau, postur tubuhnya seperti kamu! Kalau kamu ukurannya apa?” Tanya Rifai.
“M” jawabku singkat.
“Oh, ya udah aku ambil yang M aja kalau gitu! Eh, iya menurut kamu warnanya bagusan yang mana yang biru atau merah?”
“Loh kok malah jadi aku yang disuruh milih terus!”
“Hahaha, soalnya ini adalah kali pertamanya aku beliin baju cewek! Hehehe…!” jawabnya sambil tertawa.
“Hahaha,,, gitu ya! Pasti spesial banget tuh cewek!” Alfi tertawa garing karena di dalam hatinya sudah tumpah ruah kecemburuannya.
“Iya special banget lah! Eh trus bagusan yang mana nih, biru atau merah?” tanyanya sambil tersenyum.
“Hm, kalau aku yang di kasih sih aku pilih yang biru!”
“Hm, gitu ya! Oke aku ambil yang biru aja! Sekalian dibungkus ya Al!” Rifai menyuruh Alfi seakan dia sudah kenal akrab. ‘Padahal biasanya kalau pelanggan menyuruh pelayan itu bukannya bilang ‘Mbak’! Ah, entahlah!’
“Oke!”. Aku membawa baju itu! Baru pertama ini Alfi bisa bicara langsung dengannya. ‘Memang benar kali ya! Kata novel-novel, kalau cinta tuh gak harus saling memiliki. Tapi! Aku pengen memilikinya. Betapa beruntungnya cewek yang diberi gaun itu! Seberapa spesialnya sih tuh cewek! Aduh aku kembali berandai-andai lagi’.
***
“Thanks ya Al! Kemarin udah mau gantiin aku jaga toko! Btw, kalau nanti sore kamu jagain lagi gimana? Soalnya aku ada perlu! Please ya Al! Cuma dua jam aja deh! Dari jam enem sampai jam delapan!” kata Linda memohon.
“Emang kamu mau kemana Lin?”
“Kemana ya! Kencan ama Rusli! Sekarang kan hari Sabtu!”
“Hah, ogah banget aku gantiin kamu! Enakan kamu, susahan aku dong lo kaya gitu!” jawab Alfi sambil agak sewot.
“Yah, Al! Demi persabahabatan! Oke! Lagian kamu kan lum punya cowok! Itung-itung sambil cari cowok di toko. Sapa tahu aja ada cowok yang bisa buat hati kamu kecantol! Hahaha…” kata Linda.
“Nggak, sekali nggak ya tetep nggak!” jawabnya sambil mencari-cari kunci mobil yang tadi dia taruh di tas.
“Nyari apa Al? Pasti ini kan!” Linda memberikan sebuah kunci.
“Heh, tahu aja!”
“Yeh, kebiasaan tuh! Kalau punya barang suka lupa naroh!”
“Iya. Iya Non! Besok lain kali pasti gak akan lupa lagi deh! Heheheh, tapi kapan ya aku gak amnesia hahhahaha!” jawabnya sambil ngloyor pergi meninggalkan Linda.
“Aku duluan ya!” teriak Alfi.
“Yoi”. Jawab Linda. Hari ini Alfi ada kuliah sampai jam lima sore. Hampir tiap hari Alfi pasti pergi ke Distronya Dito. Entah itu hanya sekedar menemani dan ngobrol dengan Linda ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu. Kalau pun, hatinya sedang benar-benar berantakan dia memilih pergi ke laut. Yapz, kalau sudah memandangi laut! Dia selalu menjadi tenang karena dia yakin jika ombak-ombak di lautan menanggapi apa yang selalu dia keluh-kesahkan ke padanya dengan deburan ombak yang mengalun riuh.
‘Itung-itung demi persahabatan!’ Alfi memutuskan untuk ke distro, niatnya sih gantiin Linda. ‘Daripada ngganggur di kost! Mendingan jaga distro, ya nggak!’.
“Koran Neng!” kata penjual koran sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil Alfi di lampu merah..
“Kompas Bang!” katanya sambil menyerahkan uang seribuan.
‘Deg!’ tak sengaja ketika Alfi membuka kaca mobil, dia melihat Rifai sedang berduaan dengan cewek di depan Restaurant. Sumpah! Hatinya kacau banget! Padahal dia tahu, dia bukan siapa-siapanya. ‘Tapi, aku gak tahu kenapa? Rasanya hati ini benar-benar hancur!’. Karena perasaannya yang tiba-tiba bad mood Alfi pun memutuskan untuk pergi ke laut.
Di laut, seperti biasa ketika ada masalah, dia bercerita ke laut, sambil memandang hampa laut yang tanpa batas. Setelah capek, dia akan termenung, merenungi semua apa yang telah terjadi hingga dia merasa benar-benar tenang.
“Hei, kenapa harus Rifai yang aku cinta!”
“Kenapa laut? Kenapa!”
“Kenapa hanya dia yang selalu menguasai hatiku!”
“Kenapa?”
“Jawab laut!”
“Kenapa kau harus hadir di dalam hatiku lagi!”
“Why?”
Setelah menumpah ruahkan segala apa yang dia rasakan. Kemudian dia merenungkan kenapa dia harus sedih! Kenapa dia harus cemburu! Cowok yang dia pikirkan mungkin tak tahu jika telah membuat hatinya sedih! Dia sadar jika ada yang salah pada dirinya yaitu karena dia terlalu menyayangi cowok itu.
Hatinya telah tenang! Kemudian dia beranjak menuju mobil. Di depan mobil, dia melihat seseorang.
“Sabihisma!”
‘Kenapa dia berdiri di mobilku! Belum puaskah dirimu membuat hatiku kacau balau!’ Hatinya Alfi yang semula telah tenang kembali marah. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol matanya untuk tidak menangis.
“Al!” kata Rifai.
“…..” Alfi hanya diam sambil terus berjalan membuka pintu mobilnya.
“Maafkan aku Al, jika telah membuatmu menangis!” katanya kemudian.
“…….” Alfi masih diam. Namun, dia terdiam sesaat melihat wajah Rifai yang terlihat serius.
“Aku sudah tahu semuanya! Aku mendengar semua apa yang telah kau ceritakan ke laut! Dan sekarang aku tak akan mengulangi kebodohanku untuk kedua kalinya. So, please Al! terima ini!” kata Rifai sambil menyerahkan sebuah kotak kado bergambar kerang-kerang dan laut.
Alfi masih terdiam, hatinya bingung!
‘Apa maksud semua ini? Kenapa dia bilang tak ingin mengulangi kebodohannya untuk kedua kalinya?’ hatinya bertanya-tanya sembari tak sadar menerima kotak itu dan membukanya.
‘Baju yang waktu itu Rifai beli di distro!’
“Al, kamu lah orang special yang aku maksud! Sudah lama aku mencarimu, 3 tahun aku mencarimu kemana-mana dan baru sekarang aku bisa bertemu denganmu. Mau kah kau menjadi orang special di hatiku?” Tanya Rifai.
Alfi ingat, jika tadi dia melihat Rifai sedang berduaan dengan seorang cewek di Restoran. Berarti dia hanya bohong untuk apa yang dia ucapkan. Namun, seperti seorang ahli nujum, Rifai bisa membaca pikiran Alfi.
“Mungkin, kamu berpikir aku membohongimu! Aku tahu, pasti kamu tadi melihatku sedang bersama seorang cewek di pinggir jalan! Dia bukan cewekku Al! Percayalah, dia adalah adikku! Serta merta dia memperlihatkan foto keluarga yang dia simpan dalam dompetnya.
“Percaya kan Al!” Alfi hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
“Al, coba kamu ambil gaun itu!” kata Rifai.
Alfi pun mengambil gaun itu dari kotak dan didapatinya sebuah undangan pernikahan. Undangan yang sama persis seperti undangan yang dia lihat lima tahun lalu.
“Aku telah menyimpan perasaanku ini lebih dari lima tahun! Dulu aku menyesal karena tak bisa mengungkapkan perasaan ini hanya gara-gara aku takut, jika kamu menolakku! Karena aku adalah adik kelasmu!”
“Namun, aku sekarang memberanikan diri untuk mengajakmu menikah! Maukah kau menikah denganku Al?”
Hening sejenak! ‘Menikah....... ‘ Alfi bingung mau menjawab apa namun terlontar dari bibirnya tanpa sadar jika dia mengiyakan.
“Iya!”
“Namun, dengan satu syarat!” jawab Alfi kemudian.
“Apa itu!”
“Please nanti habis ini, kita mampir di masjid dan sholat magrib berjamaah. Kamu yang jadi imam dan bacakan Surat Al ‘Alaa!”
“Kenapa harus Surat Al’ala?”
“Karena.... entahlah! Kamu hafal kan?”
“Oke!” Alfi dan Rifai pun sholat berjamaah dan Rifai membacakan surat Al ‘Alaa. Sungguh indah sekali suara itu, persis seperti lima tahun yang lalu. Sabihisma. Terima kasih ya Allah Kau telah mempertemukan jodohku.
Senin, 13 Juli 2009
Merenung
Ya Allah, Ya Robb Maafkanlah segala dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini.
Mungkin kalau dimatematikakan dosa-dosa ini sudah menggunung , menutupi jagat ini.
Ya Allah, tunjukkanlah aku ke jalanMu yang lurus itu ya Allah
Bimbinglah aku ya,Allah,
Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada hamba-hambanya yang dikehendaki
Maafkanlah ya Allah segala dosa-dosa yang telah aku perbuat
Maafkanlah dosa-dosa hamba-Mu yang hina ini
Maafkanlah ya Robb
Hindarkanlah aku dari perbuatan setan yang sesat
Dekatkanlah dengan surgaMu ya Allah
Jadikan hamba anak yang berbakti kepada ke dua orang tua
Bermanfaat bagi seluruh manusia
Mungkin kalau dimatematikakan dosa-dosa ini sudah menggunung , menutupi jagat ini.
Ya Allah, tunjukkanlah aku ke jalanMu yang lurus itu ya Allah
Bimbinglah aku ya,Allah,
Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada hamba-hambanya yang dikehendaki
Maafkanlah ya Allah segala dosa-dosa yang telah aku perbuat
Maafkanlah dosa-dosa hamba-Mu yang hina ini
Maafkanlah ya Robb
Hindarkanlah aku dari perbuatan setan yang sesat
Dekatkanlah dengan surgaMu ya Allah
Jadikan hamba anak yang berbakti kepada ke dua orang tua
Bermanfaat bagi seluruh manusia
KETIKA AKU INGIN BERKHIANAT
Aku ingin bertanya! Sebenaranya dicintai itu milih siapa seh! Kenapa sampai hari ini dalam otakku. Seorang wanita yang dicintai oleh seorang laki-laki pastilah dia mempunyai kelebihan. Entah itu karena dia cantik, cedas, cakap, maupun pandai bergaul. Trus bagaimana dengan cewek-cewek yang belum menemukan kelebihan pada dirinya untuk layak dianggap mempunyai nilai lebih hingga dapat membuat cowok memilihnya. Aku sempat berfikir, bagaimana jika kelebihan itu tak juga datang hingga maut menjelang. Apakah seorang wanita tak berhak merasakan apa yang namanya dicintai.
Jika memang cinta itu milik semua orang, apakah kita bebas memilih ornag yang ingin kita cintai! Bolehkan kita mencintai orang yang seharusnya tak boleh kita cintai. Adalah apa itu yang namanya cinta terlarang!
Apakah mencintai orang yang lebih dahulu dicintai dan mungkin telah menjadi milik sahabatnya sendiri termasuk cinta terlarang!
Sungguh kejam jika itu termasuk cinta terlarang! Sungguh kejam juga jika itu dianggap mengkhianati sahabatnya sendiri. Orang mungkin dengan mudahnya menganggap orang yang mencintai pacar sahabanya sendiri bagai pagar makan tanaman. Atau mungkin kadang menyebutnya sahabat yang tak tahu diri atau mungkin malah menyebutnya orang yang tak tahu etika berteman.
Namun, sadarkah kalian jika kalian di suruh mendefinisikan cinta. Pasti aka nada lebih dari 100 orang dari 1 juta orang yang mengatakan bahwa cinta itu tak pandang tempat. Tak sedikit juga yang mengatakan cinta bisa tumbuh kapan pun dimana pun dan oleh siapa pun.
Namun, ketika mereka ditanya bagaimana dengan seorang sahabat yang mencintai pacar sahabatnya sendiri. Pasti mereka akan mencela dan menyalahkannya habis-habisan. Tanpa mereka ingin tahu apa yang dulu mereka katakana tentang definisi cinta. Sungguh tak adil.
Terlebih lagi jika cinta yang mereka anggap itu cinta terlarang adalah jodohnya. Jodoh yan telah digariskan tuhan untuknya.
Hm, kembali aku berfikir memaknai definisi cinta yang telah banyak orang katakana. Cinta tak pandang apapun, dimana pun, kapan pun.
Seandainya aku adalah orang yang sadar belakangan jika orang yang ku cintai sedang dimiliki oleh sahabatku. Mungkin yang aku lakukan adalah menjauh darinya. Menjauh dari keduanya. Tak sedikit orang yang rela memendam dan bahkan mencoba menghilangkan rasa cintanya itu demi seorang sahabat! Apakah kalian juga demikian!
Hm, mungkin aku juga memilih jalan yang sama dengan mereka! Memilih meninggalkan semuanya, mengbur semuanya dan mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bukan cinta dan hanya kagum, meyakinkan diriku sendiri jika aku mencintainya pastilah dia memilih sahabatku karena memang mereka saling mencintai. Tak ada orang yang ingin dianggap orang ketiga yang menjadi penghancur hubungan orang lain.
Aku akan berfikir, tak mungkin dia juga mencintaiku! Aku jelas lebih buruk dari sahabatku. Sahabatku sangatlah perfect. Hingga aku harus pergi dalam arti sebenarnya untuk melupakan itu semua.
Jika memang cinta itu milik semua orang, apakah kita bebas memilih ornag yang ingin kita cintai! Bolehkan kita mencintai orang yang seharusnya tak boleh kita cintai. Adalah apa itu yang namanya cinta terlarang!
Apakah mencintai orang yang lebih dahulu dicintai dan mungkin telah menjadi milik sahabatnya sendiri termasuk cinta terlarang!
Sungguh kejam jika itu termasuk cinta terlarang! Sungguh kejam juga jika itu dianggap mengkhianati sahabatnya sendiri. Orang mungkin dengan mudahnya menganggap orang yang mencintai pacar sahabanya sendiri bagai pagar makan tanaman. Atau mungkin kadang menyebutnya sahabat yang tak tahu diri atau mungkin malah menyebutnya orang yang tak tahu etika berteman.
Namun, sadarkah kalian jika kalian di suruh mendefinisikan cinta. Pasti aka nada lebih dari 100 orang dari 1 juta orang yang mengatakan bahwa cinta itu tak pandang tempat. Tak sedikit juga yang mengatakan cinta bisa tumbuh kapan pun dimana pun dan oleh siapa pun.
Namun, ketika mereka ditanya bagaimana dengan seorang sahabat yang mencintai pacar sahabatnya sendiri. Pasti mereka akan mencela dan menyalahkannya habis-habisan. Tanpa mereka ingin tahu apa yang dulu mereka katakana tentang definisi cinta. Sungguh tak adil.
Terlebih lagi jika cinta yang mereka anggap itu cinta terlarang adalah jodohnya. Jodoh yan telah digariskan tuhan untuknya.
Hm, kembali aku berfikir memaknai definisi cinta yang telah banyak orang katakana. Cinta tak pandang apapun, dimana pun, kapan pun.
Seandainya aku adalah orang yang sadar belakangan jika orang yang ku cintai sedang dimiliki oleh sahabatku. Mungkin yang aku lakukan adalah menjauh darinya. Menjauh dari keduanya. Tak sedikit orang yang rela memendam dan bahkan mencoba menghilangkan rasa cintanya itu demi seorang sahabat! Apakah kalian juga demikian!
Hm, mungkin aku juga memilih jalan yang sama dengan mereka! Memilih meninggalkan semuanya, mengbur semuanya dan mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bukan cinta dan hanya kagum, meyakinkan diriku sendiri jika aku mencintainya pastilah dia memilih sahabatku karena memang mereka saling mencintai. Tak ada orang yang ingin dianggap orang ketiga yang menjadi penghancur hubungan orang lain.
Aku akan berfikir, tak mungkin dia juga mencintaiku! Aku jelas lebih buruk dari sahabatku. Sahabatku sangatlah perfect. Hingga aku harus pergi dalam arti sebenarnya untuk melupakan itu semua.
Aku tak habis pikir!
Hm, usiaku sudah hampir menginjak 18 taun. Hah, lumayan tua juga ya! Se enggaknya, aku sudah tergolong dewasa! Aku sudah memiliki SIM, KTP dan KTM. Otomatis aku bukan lagi anak kemarin sore yang baru lahir. Aku telah dipercaya dan mendapat izin oleh negara untuk memakai motor karena aku sudah punya SIM. Aku juga telah berhak menentukan mana yang terbaik untuk hidupku karena aku sudah mempunyai KTP, otomatis aku punya hak pilih untuk memilih presiden (calon pemimpinku yang MUNGKIN bisa merubah masa depanku untuk menjadi lebih baik). Dan aku juga sudah boleh dikatakan dewasa karena aku sekrag sudah menjadi mahasiswa yang mempunyai KTM. Aku bisa mengikuti lomba-lomba antar fakultas. Aku bisa menunjukkan kreativitasku, aku bisa menunjukkan bakatku pada semua orang! Namun, aku tak habis pikir! Ketika pemerintah telah percaya padaku dengan memberikan KTP, SIM dan pihak Universitas telah memberiku KTM, dia orang yang sangat aku hormati tak pernah percaya padaku untuk melakukan sesuatu!
Aku hanya ingin menggunakan hak ku. Aku ingin pergi ke tempat yang aku inginkan dengan motorku karena aku sudah mempunyai SIM. Aku ingin berkumpul bersama-teman-temanku layaknya remaja seumuranku. Berjalan-jalan, rekresasi, atau pun kumpul-kumpul bersama mereka karena aku sudah mempunyai hak untuk menentukan dengan siapa aku berteman karena aku sudah mempunyai KTP. Aku ingin bertemu teman-teman lamaku karena aku sekarang sudah mahasiswa, buktinya aku punya KTM. Secara garis besar aku sudah dewasa. Dan aku yakin aku bisa dan mampu untuk melakukan itu. Karena aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang baik bagiku dan mana yang tak baik untukku.
Dan yang aku heran hingga saat ini adalah engkau tak pernah percaya dengan segala pilihanku dan apa yang aku lakukan. Seolah-olah apa yang aku lakukan adalah salah. Seakan-akan engkau yang selalu benar dan tepat mengatur hidupku. Dalam usiaku saat ini aku masih saja engkau kendalikan kemudi hidupku. Dari apa yang aku pakai hari ini hingga kemana hari aku harus pergi. Semuanya harus meminta persetujuanmu. Jika engkau tak setuju aku pun dengan senang hati (.....)harus membatalkan planing ku hari itu juga. Padahal aku telah terlanjur berjanji pada teman-temanku.
Mungkin teman-temanku menganggapku orang yang plin plan dan suka ingkar janji! Namun, tahu kah kalian jika aku melakukan itu karena ada alasan. Dan mungkin alasan itu kadang seperti tak logis. Namun itulah sebenarnya.
Padahal, jika aku berbohong padanya! Hanya 1 persen kemungkinan engkau akan tahu. Namun aku tak melakuakan itu! Karena aku tak mau membohongimu! Karena aku tak ingin jadi anak durhaka. Dan ketika aku terpaksa melakuakan itu karena ada hal yang sangat penting dan aku jujur padamu untuk melakukan itu namun engkau tak setuju aku akan mendapatkan duka mu. Tahukah engkau! Ketika engkau berduka padaku! Aku sangat hancur hatiku karena aku merasa akan menjadi calon penghuni neraka jahanam. Aku minta maaf padamu, namun engkau tak pernah menerima maafku. Hingga lama nian... dan akhirnya aku yang harus mengajakmu berdamai. Aneh benar!!!!! Padahal aku tahu apa yang aku lakukan sangatlah tidak melanggar apapun, baik norma hukun, norma moral maupun norma adat. Tapi engkau seakan tak pernah ingin tahu apa alasanku! Dan engkau juga seakan tak menghargai kejujuranku. Padahal aku bisa saja berbohong padamu tapi itu gak aku lakukan karena aku tak suka dibohongi makanya aku tak igin berbohong padamu. Namun ternyata sia-sia, kau telah membuatku menangisi apa yang kau lakukan padaku. Kau mendiamkanku seakan-akan aku telah membuat kesalahan yang besar dan tak termaafkan. Padahal itu Cuma hal yang sepele.
Namun, jika engkau yang membuat kesalahan seakan-akan tak ada dalam kitab hukum perdata jika aku boleh marah padamu. Aku harus selalu memaafkanmu dengan segera tanpa engkaku pernah mengucapkan kata maaf padaku. Seakan tak ada kesempatan aku harus marah padamu. Hm, dan kenapa hanya kepada aku engkau begitu marah jika aku membuat kesalahan! Padahal kesalahanku hanyalah kesalahan yang sepele. Apakah salah jika aku hanya pergi ke tempat teman dan aku izinnya ketika aku sudah sampai di rumah teman! Apakah aku salah jika aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah yang jika dipersentase aku hanya lupa mencuci pakaian dari semua kegiatan rumah tangga yang harus aku kerjakan. Engkau seakan selalu menganggapku terlalu kuat untuk engkau marahi! Terlalu kuat untuk engkau selalu salahkan! Tak logis memang jika aku hanya melakukan kesalahan kecil seperti itu engkau harus marah padaku hingga beberapa hari. Memang aku tak pernah menagis di hadapanmu! Karea aku tak ingin engkau anggap lemah! Aku memang kuat! Aku buktikan itu!
Berbeda dengan dia, ketika dia melakukan kesalahan yang fatal sekalipun kau tak pernah memarahinya hingga beberapa hari. Malah ketika dia yang melakukan kesalahan, engkaulah yang minta maaf padanya dan engkaulah yang mengajaknya damai dan membujuknya! Aneh sekali! Sungguh pilih kasih! Namun, aku tak pernah mengucapkan itu padamu! Karena aku tahu itu tak penting bagimu. Aku tahu, marahmu hanya untukku!
Hidupku hanya lah engkau yang berhak mengendalikannya. Ketika aku ingin pergi ke suatu tempat engkau tak akan pernah percaya jika aku bisa! Dan engkau selalu saja melarangku! Sudah ku duga aku harus patuh padamu! Sedikit saja aku melawan padamu! Engkau pasti menganggapku pembrontak!!!! Sehinanya apa seh aku ini. Untuk memutuskan masalahku sendiri aku harus bertanya dan meminta persetujuanmu! Sampai kapan aku begini! Namun, aku kembali sadar jika pa yang engkau lakukan padaku adalah yang terbaik untukku walaupun itu hanyalah dalam pandanganmu! Aku tahu itu! Namun, sekali saja engkau melihat itu dengan sudut pandangku! Aku sangat tersiksa dengan semua ini! Apakah engkau pernah memikirkan perasaanku! Aku kehilangan teman-temanku karena dirimu
Yapz, aku akan melakan semuanya untukmu! Entah sampai kapan aku tak tahu, aku masih sanggup melakukan itu semua! Semoga aku ikhlas melakukan ini. Walau sulit sekali hati ini untuk mengendalikan semut-semut kecil yang lambat laun ingin membrontak dengan segala kebijakanmu!
Aku hanya ingin menggunakan hak ku. Aku ingin pergi ke tempat yang aku inginkan dengan motorku karena aku sudah mempunyai SIM. Aku ingin berkumpul bersama-teman-temanku layaknya remaja seumuranku. Berjalan-jalan, rekresasi, atau pun kumpul-kumpul bersama mereka karena aku sudah mempunyai hak untuk menentukan dengan siapa aku berteman karena aku sudah mempunyai KTP. Aku ingin bertemu teman-teman lamaku karena aku sekarang sudah mahasiswa, buktinya aku punya KTM. Secara garis besar aku sudah dewasa. Dan aku yakin aku bisa dan mampu untuk melakukan itu. Karena aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang baik bagiku dan mana yang tak baik untukku.
Dan yang aku heran hingga saat ini adalah engkau tak pernah percaya dengan segala pilihanku dan apa yang aku lakukan. Seolah-olah apa yang aku lakukan adalah salah. Seakan-akan engkau yang selalu benar dan tepat mengatur hidupku. Dalam usiaku saat ini aku masih saja engkau kendalikan kemudi hidupku. Dari apa yang aku pakai hari ini hingga kemana hari aku harus pergi. Semuanya harus meminta persetujuanmu. Jika engkau tak setuju aku pun dengan senang hati (.....)harus membatalkan planing ku hari itu juga. Padahal aku telah terlanjur berjanji pada teman-temanku.
Mungkin teman-temanku menganggapku orang yang plin plan dan suka ingkar janji! Namun, tahu kah kalian jika aku melakukan itu karena ada alasan. Dan mungkin alasan itu kadang seperti tak logis. Namun itulah sebenarnya.
Padahal, jika aku berbohong padanya! Hanya 1 persen kemungkinan engkau akan tahu. Namun aku tak melakuakan itu! Karena aku tak mau membohongimu! Karena aku tak ingin jadi anak durhaka. Dan ketika aku terpaksa melakuakan itu karena ada hal yang sangat penting dan aku jujur padamu untuk melakukan itu namun engkau tak setuju aku akan mendapatkan duka mu. Tahukah engkau! Ketika engkau berduka padaku! Aku sangat hancur hatiku karena aku merasa akan menjadi calon penghuni neraka jahanam. Aku minta maaf padamu, namun engkau tak pernah menerima maafku. Hingga lama nian... dan akhirnya aku yang harus mengajakmu berdamai. Aneh benar!!!!! Padahal aku tahu apa yang aku lakukan sangatlah tidak melanggar apapun, baik norma hukun, norma moral maupun norma adat. Tapi engkau seakan tak pernah ingin tahu apa alasanku! Dan engkau juga seakan tak menghargai kejujuranku. Padahal aku bisa saja berbohong padamu tapi itu gak aku lakukan karena aku tak suka dibohongi makanya aku tak igin berbohong padamu. Namun ternyata sia-sia, kau telah membuatku menangisi apa yang kau lakukan padaku. Kau mendiamkanku seakan-akan aku telah membuat kesalahan yang besar dan tak termaafkan. Padahal itu Cuma hal yang sepele.
Namun, jika engkau yang membuat kesalahan seakan-akan tak ada dalam kitab hukum perdata jika aku boleh marah padamu. Aku harus selalu memaafkanmu dengan segera tanpa engkaku pernah mengucapkan kata maaf padaku. Seakan tak ada kesempatan aku harus marah padamu. Hm, dan kenapa hanya kepada aku engkau begitu marah jika aku membuat kesalahan! Padahal kesalahanku hanyalah kesalahan yang sepele. Apakah salah jika aku hanya pergi ke tempat teman dan aku izinnya ketika aku sudah sampai di rumah teman! Apakah aku salah jika aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah yang jika dipersentase aku hanya lupa mencuci pakaian dari semua kegiatan rumah tangga yang harus aku kerjakan. Engkau seakan selalu menganggapku terlalu kuat untuk engkau marahi! Terlalu kuat untuk engkau selalu salahkan! Tak logis memang jika aku hanya melakukan kesalahan kecil seperti itu engkau harus marah padaku hingga beberapa hari. Memang aku tak pernah menagis di hadapanmu! Karea aku tak ingin engkau anggap lemah! Aku memang kuat! Aku buktikan itu!
Berbeda dengan dia, ketika dia melakukan kesalahan yang fatal sekalipun kau tak pernah memarahinya hingga beberapa hari. Malah ketika dia yang melakukan kesalahan, engkaulah yang minta maaf padanya dan engkaulah yang mengajaknya damai dan membujuknya! Aneh sekali! Sungguh pilih kasih! Namun, aku tak pernah mengucapkan itu padamu! Karena aku tahu itu tak penting bagimu. Aku tahu, marahmu hanya untukku!
Hidupku hanya lah engkau yang berhak mengendalikannya. Ketika aku ingin pergi ke suatu tempat engkau tak akan pernah percaya jika aku bisa! Dan engkau selalu saja melarangku! Sudah ku duga aku harus patuh padamu! Sedikit saja aku melawan padamu! Engkau pasti menganggapku pembrontak!!!! Sehinanya apa seh aku ini. Untuk memutuskan masalahku sendiri aku harus bertanya dan meminta persetujuanmu! Sampai kapan aku begini! Namun, aku kembali sadar jika pa yang engkau lakukan padaku adalah yang terbaik untukku walaupun itu hanyalah dalam pandanganmu! Aku tahu itu! Namun, sekali saja engkau melihat itu dengan sudut pandangku! Aku sangat tersiksa dengan semua ini! Apakah engkau pernah memikirkan perasaanku! Aku kehilangan teman-temanku karena dirimu
Yapz, aku akan melakan semuanya untukmu! Entah sampai kapan aku tak tahu, aku masih sanggup melakukan itu semua! Semoga aku ikhlas melakukan ini. Walau sulit sekali hati ini untuk mengendalikan semut-semut kecil yang lambat laun ingin membrontak dengan segala kebijakanmu!
TOPENG
Sudah lama aku melepaskan TOPENG ku. Merasa bebas, lepas dan be my self itulah diriku sekarang. Tanpa topeng, aku bisa mengatakan apa yang ingin aku katakana tanpa berpikir panjang apa yang nantinya terjadi. Dengan topeng aku mencari teman. Bersama topeng aku mencoba mencari jati diri.
Banyak hal yang dulu gak bisa aku lakukan dengan topeng yang selalu menutupi wajahku, kini aku bebas melakukannya tanpa ada rasa beban dalam hati. Apa yang aku ingin lakukan, aku lakukan. Terlalu merasa senang aku dengan semua ini, dengan keadaanku sekarang ini. Lebih tepatnya lagi, dengan berhasilnya aku melepas topeng yang telah lama bertengger di wajahku ini. Topeng yang telah memberikan banyak kenangan pahit. Namun, sekarang?....
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah benar topeng yang telah lama menemaniku telah benar-benar aku buang. Apakah aku tak akan membutuhkannya lagi? Eh, di mana gerangan topengku! Tiba-tiba aku teringat dengan topengku! Topeng yang membatasi semua gerak-gerikku. Topeng yang membatasi kebebasanku. Kenapa dulu aku mempunyai kekuatan untuk melepasmu! Aku bertanya-tanya! Apakah benar aku telah merasakan kebebasan, seperti kebebasan yang selama ini aku impikan!
Prestasiku hancur, imanku kabur, hidupku kacau! Apakah ini yang dinamakan kebebasan. Tanpa pernah merasa berdosa aku membohongi diriku sendiri. Ku katakan pada diriku sendiri jika ini semua adalah suatu kebebasan yang selama ini ku impikan. Dengan suara lantang ku doktrin hatiku, jika apa yang ku lakukan semua ini adalah suatu perjuangan untuk meraih kebebasan. Freedom! Jika aku tak suka sesuatu tanpa berpikir panjang apakah ada yang akan merasa tersinggung dengan perbuatan maupun perkataanku, aku akan mengatakan “Gak“.
Dengan bangganya aku bisa berteman dengan orang-orang yang juga mengaku sedang berjuang mencari jati diri. Pernah aku bertanya pada diriku sendiri ketika itu! Kenapa kita harus mencari jati diri? Kenapa kita gak menyusun dan menata jati diri sendiri. Bukankah jika mencari jati diri itu sama dengan meniru jati diri orang lain. Hm, berarti jika kita mencari jati diri sama dengan mencari contekan kepribadian seseorang ! hah,,,, namun, aku juga seperti mereka ! tetap ingin mencari jati dirku……………… .
Ku dapati banyak teman ketika aku melepas topengku. Aku menjadi orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Ku tingglkan orang-orang yang dulu menjadi temanku ketika aku masih memakai topeng. Aku merasa enjay dengan keadaan sekarang ini. Hidup tanpa kepura-puraan ! itulah aku !
Bertahun-tahun aku telah merasakan kebebasan ini. Tanpa beban dan malu, aku membuang waktuku bersama teman-teman untuk hanya sekedar ngobrol, jalan-jalan maupun hanya sekedar kumpul-kumpul tak jelas. Aku menyukai keadaan ini. Aku bisa tertawa lepas ketika aku ingin tertawa, dan aku akan marah jika memang aku ingin marah. Tak seperti dulu ketika aku masih memakai topeng, untuk tertawa lepas ataupun marah pun aku sungkan hanya menyimpannya dalam hati. Sekarang masa bodoh dengan semua itu. Toh apa yang aku lakukan sekarang masih dalam batas-batas pergaulan yang wajar. Aku merasa bersyukur dengan keadaanku saat ini. Aku merasa bersyukur aku bisa merasakan kebebasaan ini, tak seperti dulu! Aku hanyalah orang yang selalu kalah, pendiam atau tebih tepatnya merasa harus selalu mengalah dan harus diam. Karena aku merasa menjadi orang yang tak berguna. Aku ingin Punya teman! Ya itu..itu saja.
Namun, hari ini, ketika semua temanku merasa bosan denganku. Aku seperti ditinggalkan sendiri. Dan aku merasa sendiri lagi! Entah kenapa mereka tak mengajakku menikmati kebebasan itu. Kenapa?
Detik ini, aku sadar! Ternyata aku yang menjauh dari mereka! Bukan mereka yang meninggalkanku. Entahlah, ketika aku menikmati semua kebebasan yang ada. Jiwaku merasa hampa! Apa benar ini hidupku. Apa benar aku telah melepaskan topeng ku. Atau mungkin saat ini aku sedang memakai topeng yang terlalu tebal hingga hatiku terasa mati untuk membedakan mana yang kepura-puraan, dan mana yang ku lakukan dengan tulus.
Sekarang mereka selalu mengangapku “kuno“. Aku menjadi telmi diantara semua temanku sekarang. Hm, entahlah! Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman lamaku. Mereka masih dengan tulusnya menyapaku! Dengan tulusnya mereka mengulurkan rasa persabatan kepadaku. Aku sadar, ternyata bukan teman lamaku yang memakai topeng! Namun teman-teman ku, yang menganggap kebebasan itu segala-galanya lah yang memakai topeng. Hm, aku tahu! Kenapa aku dulu menjadi orang yang tak banyak tingkah! Karena aku ingin menjaga tingkah lakuku. Aku ingin membuat orang tuaku bangga. Aku juga ingat kenapa dulu aku sangat rajin belajar hingga selalu menjadi juara kelas! Karena aku merasa dengan itulah aku bisa berbakti kepada orang tuaku. Tidak seperti saat ini, aku merasa belajar itu tak penting, hingga aku tak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya menjadi juara kelas. Ah.. boro-boro peringkat pertama, 20 besar kelas pun aku tak masuk. Dan untuk menebus semua itu. Aku harus belajar mati-matian. Tak peduli teman-temanku mengejekku, “Sok Rajin lah!“ aku gak peduli. Yang ku pedulikan sekarang adalah... aku ingin memakai topeng yang telah lama aku buang. Aku sadar, tanpamu aku tak bisa mengendalikan diriku ini. Sungguh! Dimana kau berada! Aku sangat membutuhkanmu dalam hidupku. Aku sanga membutuhkanmu dalam semua langkahku untuk selalu dekat denganNya, untuk menjadi orang yang bisa membuat orang tuaku bangga! Sekali lagi maafkan topeng ku jika aku dulu telah membuangmu! Aku butuh topengku yang dulu. Maukah kau kembali bersamaku?
Banyak hal yang dulu gak bisa aku lakukan dengan topeng yang selalu menutupi wajahku, kini aku bebas melakukannya tanpa ada rasa beban dalam hati. Apa yang aku ingin lakukan, aku lakukan. Terlalu merasa senang aku dengan semua ini, dengan keadaanku sekarang ini. Lebih tepatnya lagi, dengan berhasilnya aku melepas topeng yang telah lama bertengger di wajahku ini. Topeng yang telah memberikan banyak kenangan pahit. Namun, sekarang?....
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah benar topeng yang telah lama menemaniku telah benar-benar aku buang. Apakah aku tak akan membutuhkannya lagi? Eh, di mana gerangan topengku! Tiba-tiba aku teringat dengan topengku! Topeng yang membatasi semua gerak-gerikku. Topeng yang membatasi kebebasanku. Kenapa dulu aku mempunyai kekuatan untuk melepasmu! Aku bertanya-tanya! Apakah benar aku telah merasakan kebebasan, seperti kebebasan yang selama ini aku impikan!
Prestasiku hancur, imanku kabur, hidupku kacau! Apakah ini yang dinamakan kebebasan. Tanpa pernah merasa berdosa aku membohongi diriku sendiri. Ku katakan pada diriku sendiri jika ini semua adalah suatu kebebasan yang selama ini ku impikan. Dengan suara lantang ku doktrin hatiku, jika apa yang ku lakukan semua ini adalah suatu perjuangan untuk meraih kebebasan. Freedom! Jika aku tak suka sesuatu tanpa berpikir panjang apakah ada yang akan merasa tersinggung dengan perbuatan maupun perkataanku, aku akan mengatakan “Gak“.
Dengan bangganya aku bisa berteman dengan orang-orang yang juga mengaku sedang berjuang mencari jati diri. Pernah aku bertanya pada diriku sendiri ketika itu! Kenapa kita harus mencari jati diri? Kenapa kita gak menyusun dan menata jati diri sendiri. Bukankah jika mencari jati diri itu sama dengan meniru jati diri orang lain. Hm, berarti jika kita mencari jati diri sama dengan mencari contekan kepribadian seseorang ! hah,,,, namun, aku juga seperti mereka ! tetap ingin mencari jati dirku……………… .
Ku dapati banyak teman ketika aku melepas topengku. Aku menjadi orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Ku tingglkan orang-orang yang dulu menjadi temanku ketika aku masih memakai topeng. Aku merasa enjay dengan keadaan sekarang ini. Hidup tanpa kepura-puraan ! itulah aku !
Bertahun-tahun aku telah merasakan kebebasan ini. Tanpa beban dan malu, aku membuang waktuku bersama teman-teman untuk hanya sekedar ngobrol, jalan-jalan maupun hanya sekedar kumpul-kumpul tak jelas. Aku menyukai keadaan ini. Aku bisa tertawa lepas ketika aku ingin tertawa, dan aku akan marah jika memang aku ingin marah. Tak seperti dulu ketika aku masih memakai topeng, untuk tertawa lepas ataupun marah pun aku sungkan hanya menyimpannya dalam hati. Sekarang masa bodoh dengan semua itu. Toh apa yang aku lakukan sekarang masih dalam batas-batas pergaulan yang wajar. Aku merasa bersyukur dengan keadaanku saat ini. Aku merasa bersyukur aku bisa merasakan kebebasaan ini, tak seperti dulu! Aku hanyalah orang yang selalu kalah, pendiam atau tebih tepatnya merasa harus selalu mengalah dan harus diam. Karena aku merasa menjadi orang yang tak berguna. Aku ingin Punya teman! Ya itu..itu saja.
Namun, hari ini, ketika semua temanku merasa bosan denganku. Aku seperti ditinggalkan sendiri. Dan aku merasa sendiri lagi! Entah kenapa mereka tak mengajakku menikmati kebebasan itu. Kenapa?
Detik ini, aku sadar! Ternyata aku yang menjauh dari mereka! Bukan mereka yang meninggalkanku. Entahlah, ketika aku menikmati semua kebebasan yang ada. Jiwaku merasa hampa! Apa benar ini hidupku. Apa benar aku telah melepaskan topeng ku. Atau mungkin saat ini aku sedang memakai topeng yang terlalu tebal hingga hatiku terasa mati untuk membedakan mana yang kepura-puraan, dan mana yang ku lakukan dengan tulus.
Sekarang mereka selalu mengangapku “kuno“. Aku menjadi telmi diantara semua temanku sekarang. Hm, entahlah! Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman lamaku. Mereka masih dengan tulusnya menyapaku! Dengan tulusnya mereka mengulurkan rasa persabatan kepadaku. Aku sadar, ternyata bukan teman lamaku yang memakai topeng! Namun teman-teman ku, yang menganggap kebebasan itu segala-galanya lah yang memakai topeng. Hm, aku tahu! Kenapa aku dulu menjadi orang yang tak banyak tingkah! Karena aku ingin menjaga tingkah lakuku. Aku ingin membuat orang tuaku bangga. Aku juga ingat kenapa dulu aku sangat rajin belajar hingga selalu menjadi juara kelas! Karena aku merasa dengan itulah aku bisa berbakti kepada orang tuaku. Tidak seperti saat ini, aku merasa belajar itu tak penting, hingga aku tak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya menjadi juara kelas. Ah.. boro-boro peringkat pertama, 20 besar kelas pun aku tak masuk. Dan untuk menebus semua itu. Aku harus belajar mati-matian. Tak peduli teman-temanku mengejekku, “Sok Rajin lah!“ aku gak peduli. Yang ku pedulikan sekarang adalah... aku ingin memakai topeng yang telah lama aku buang. Aku sadar, tanpamu aku tak bisa mengendalikan diriku ini. Sungguh! Dimana kau berada! Aku sangat membutuhkanmu dalam hidupku. Aku sanga membutuhkanmu dalam semua langkahku untuk selalu dekat denganNya, untuk menjadi orang yang bisa membuat orang tuaku bangga! Sekali lagi maafkan topeng ku jika aku dulu telah membuangmu! Aku butuh topengku yang dulu. Maukah kau kembali bersamaku?
Selasa, 07 Juli 2009
SAMPAIKANLAH PADANYA BUNGA MAWAR PUTIHKU!
Aku malu…
Tak terasa diusiamu yang telah renta
Kau masih selalu memberikan semua yang ku minta
Walau hanya kuminta dalam diam
Aku malu…
Matamu yang sayu
Sanggup melihat isi ragaku
Tajam menusuk kalbu
Melihat empeduku
Aku malu…
Diriku yang lemah
Dayaku yang telah lama musnah
Telah harus membuatmu menggenggam erat takdir
Sendiri…
Aku takut….
Kau telah menyesal meminjamkan rahimmu
Pada diriku
Anak buangan tanpa makna
Aku takut…
Tak bisa lagi melihat semangatmu
Selalu mencoba melewati pahitnya dunia
Penuh jejak tak menentu
Aku takut…
Jiwaku tak kan pernah mampu
Membantumu menemukan sebutir padi dalam lumpur
Untuk kita berdua
Hanya kau yang selalu bilang…
Bahwa aku pasti bisa menemukan diriku yang hanya bayang-bayang menjadi utuh
Hanya kau yang selalu bilang…
Bahwa aku pasti bisa melintasi lumpur yang penuh jejak tanpa dirimu
Tapi, aku takut tak akan pernah bisa
Telah ku kais-kais
Semua yang ku punya
Namun, hanya bunga mawar putih
Yang ku temukan di bawah kolong meja
Untukmu……….
Bunga mawar putih…..
Maukah kau menemaniku
Bersamaku menyampaikan sesuatu
Pada seorang yang kucintai
Bunga mawar putih…….
Sampaikanlah ucapan terima kasihku
Kepada seorang yang telah renta itu
Kepada pahlawanku
Bersamaku dalam diam….
Tak terasa diusiamu yang telah renta
Kau masih selalu memberikan semua yang ku minta
Walau hanya kuminta dalam diam
Aku malu…
Matamu yang sayu
Sanggup melihat isi ragaku
Tajam menusuk kalbu
Melihat empeduku
Aku malu…
Diriku yang lemah
Dayaku yang telah lama musnah
Telah harus membuatmu menggenggam erat takdir
Sendiri…
Aku takut….
Kau telah menyesal meminjamkan rahimmu
Pada diriku
Anak buangan tanpa makna
Aku takut…
Tak bisa lagi melihat semangatmu
Selalu mencoba melewati pahitnya dunia
Penuh jejak tak menentu
Aku takut…
Jiwaku tak kan pernah mampu
Membantumu menemukan sebutir padi dalam lumpur
Untuk kita berdua
Hanya kau yang selalu bilang…
Bahwa aku pasti bisa menemukan diriku yang hanya bayang-bayang menjadi utuh
Hanya kau yang selalu bilang…
Bahwa aku pasti bisa melintasi lumpur yang penuh jejak tanpa dirimu
Tapi, aku takut tak akan pernah bisa
Telah ku kais-kais
Semua yang ku punya
Namun, hanya bunga mawar putih
Yang ku temukan di bawah kolong meja
Untukmu……….
Bunga mawar putih…..
Maukah kau menemaniku
Bersamaku menyampaikan sesuatu
Pada seorang yang kucintai
Bunga mawar putih…….
Sampaikanlah ucapan terima kasihku
Kepada seorang yang telah renta itu
Kepada pahlawanku
Bersamaku dalam diam….
Langganan:
Postingan (Atom)